Model Irigasi Hemat Air Alternate Wetting and Drying Pada Sistim Irigasi Pompa (Studi Kasus Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo)
DOI:
https://doi.org/10.57122/integral.v3i2.50Kata Kunci:
Irigasi pompa, Irigasi, AWDAbstrak
Sebagian besar sawah di desa Krandegan bersifat lahan tadah hujan, sehingga saat musim kemarau (MT II) ketersediaan air berkurang dan berisiko gagal panen. Strategi mengurangi biaya operasional pompa air berupa metode pemberian air Alternate Wetting And Drying (AWD). Metode penelitian sistem AWD yang dilakukan dengan mengambil sampel jenis tanah. Melalui tes laboratorium didapat jenis tanah dan besaran perkolasinya sebagai dasar perhitungan kebutuhan air. Pembuatan model sistem irigasi basah kering (AWD) dengan membuat pola operasional pompa air. Hasil perhitungan kebutuhan air irigasi metode AWD lebih hemat penggunaan air dibandingkan dengan metode Continuous Flow (existing). Perbandingan kebutuhan air metode AWD dan metode Continuous Flow diperoleh penghematan air sebesar 13.547 m3 atau 47,78% untuk MT I dan 28.047 m3 atau 61,49% untuk MT II. Pompa air sejumlah 1 unit melayani sawah seluas 41,025 ha. Operasional pompa air sistem pengaliran berselang hidup dan mati, yaitu selama 8 hari pompa hidup dan 4 - 5 hari pompa mati/berhenti, selama 75 hari. Metode Continuous Flow (Existing) operasional pompa menyala 10 hari dan 3 hari berhenti, selama 75 hari. Oleh karena itu, sistem irigasi metode Alternate Wetting and Drying (AWD) lebih hemat 20 % untuk biaya operasional.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2024 Muhamad Taufik, Eko Riyantot, Larashati B’tari Setyaning

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.



